Revolusi Hijau Yogyakarta: Gerakan ‘Mbah Dirjo’

Sumber: Antara News

Gerakan ‘Mbah Dirjo’, yang diberi nama dengan semangat lokal, adalah respons penuh semangat Yogyakarta terhadap peringatan yang mengkhawatirkan: meluapnya tempat pembuangan sampah.

Inisiatif akar rumput ini memanfaatkan metode biopori tradisional, sebuah teknik pengomposan sampah organik yang sederhana namun revolusioner yang dengan cepat mengubah masyarakat menjadi penjaga lingkungan.

Baca: Inovasi Sosial PT Solusi Bangun Indonesia untuk Lingkungan

Urgensinya sangat jelas. Tempat pembuangan sampah utama di Yogyakarta, TPA Regional Piyungan, telah terendam banjir, menandakan adanya darurat sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Seruan Wali Kota Singgih Raharjo untuk ‘Mbah Dirjo’ bergema di gang-gang sempit kota dan pasar-pasar yang ramai, mendesak semua orang untuk memikul tanggung jawab terhadap lingkungan.

Biopori, teknik membuat lubang resapan, kini menjadi senjata rahasia kota melawan sampah.

Mudah diterapkan, lubang-lubang ini diisi dengan sampah organik, mengubahnya menjadi kompos kaya nutrisi tepat di halaman belakang rumah.

Warga Yogyakarta berupaya keras, berbekal pipa paralon dan ember cat bekas, untuk membangun lubang tambang ramah lingkungan ini.

Bahkan ruang terkecil pun dapat berkontribusi pada upaya ramah lingkungan berskala besar ini.

Dari sebidang tanah seluas 20 cm saja, sampah organik rumah tangga yang bernilai satu bulan dapat kembali ke bumi, menyelesaikan siklus yang berkelanjutan.

Bagi mereka yang kekurangan ruang, lubang biopori kolektif menjadi pusat sosial, tempat tumbuhnya semangat komunitas dan kepedulian terhadap lingkungan.

Di tempat seperti Kampung Balapan dan Klitren, biopori bukan sekedar metode; itu sebuah gerakan.

Hampir setiap rumah tangga di wilayah ini kini memiliki pabrik ramah lingkungan mini, yang menghasilkan kompos dan mengurangi sampah organik kota hingga 60 ton setiap hari.

Jumlah tersebut merupakan pengurangan sebesar 30% dari rata-rata timbulan sampah di Yogyakarta, sebuah dampak nyata yang memicu revolusi hijau.

Pemerintah Kota Yogyakarta tidak hanya mengadvokasi perubahan; mereka melembagakannya.

Pegawai negeri sipil dan badan usaha milik desa kini menjadi prajurit garis depan dalam perang salib ‘Mbah Dirjo’.

‘Mbah Dirjo Sowan’, sebuah program turunan yang mengamanatkan penyelenggara negara untuk memberi contoh, menjadikan tempat tinggalnya sebagai etalase keberhasilan biopori, lengkap dengan bukti foto untuk mendorong partisipasi dan akuntabilitas.

Namun, sampah organik hanyalah salah satu sisi mata uang. Inisiatif bank sampah kota ini bertujuan untuk mengatasi ancaman anorganik – plastik, kertas, dan bahan-bahan non-biodegradable lainnya.

Bersama-sama, upaya ganda ini telah mengurangi jejak sampah di Yogyakarta sebesar 90 hingga 100 ton setiap hari sejak awal tahun 2023.

Meski sukses, tantangan masih menghadang. Penutupan Piyungan pada bulan Juli hingga September tahun ini merupakan pengingat bahwa masalah sampah di kawasan ini memerlukan perhatian terus-menerus.

Dengan keterbatasan ketersediaan lahan untuk fasilitas pengolahan sampah, Yogyakarta menempuh jalan sempit, mengandalkan tanggung jawab bersama dan pendekatan inovatif seperti ‘Mbah Dirjo’.

Pemprov DIY juga tidak tinggal diam. Kolaborasi dengan dunia usaha untuk menggunakan teknologi pengolahan limbah mutakhir sedang direncanakan, yang bertujuan untuk melengkapi upaya akar rumput masyarakat Yogyakarta.

Lompatan Yogyakarta menuju masa depan berkelanjutan lebih dari sekadar kampanye lingkungan hidup; ini adalah transformasi masyarakat.

Baca juga: Keajaiban Ramah Lingkungan Desa Sidoakur Yogyakarta

Seiring berkembangnya gerakan ‘Mbah Dirjo’, tidak hanya sekedar mengurangi sampah; ini tentang menumbuhkan etos komunitas di mana setiap penduduk, setiap pejabat, dan setiap lingkungan adalah penjaga lingkungan.

Ini adalah model keberlanjutan perkotaan yang dapat dipelajari oleh dunia, dari satu biopori dalam satu waktu.

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.