/

Melestarikan Kain Batik dan Wastra Indonesia: Urgensi dan Inisiatif Generasi Muda

Photo by Iniizah on Unsplash

Indonesia, dengan beragam warisan budayanya, mengakui salah satunya melalui kain batik yang diakui secara global.

Istilah “batik” sendiri berasal dari bahasa Jawa, di mana “amba” berarti “menulis” dan “titik” berarti “titik” atau “tetes.” Proses pembuatan batik mencakup tulisan dan tetesan lilin di atas kain putih.

Baca: Kain Gambo dan Pelestarian Hutan

UNESCO pada 2 Oktober 2009 mengakui dan menetapkan batik Indonesia sebagai karya agung warisan kemanusiaan.

Pengakuan ini menjadi tonggak penting untuk mempromosikan eksistensi batik di dunia internasional.

Presiden Indonesia pada 17 November 2009 menetapkan Hari Batik Nasional, yang jatuh pada 2 Oktober, sebagai ungkapan syukur atas pengakuan tersebut.

Kain batik bukan hanya warisan budaya tetapi juga identitas bangsa, ada sejak zaman kerajaan Mataram pada tahun 1587.

Swara Gembira, Creative House, menjalankan berbagai program untuk melestarikan batik dan wastra Indonesia.

Mereka melakukan kampanye melalui media sosial dengan tagar #BerkainBersama dan #BerkainGembira.

Natasha Zevanya, Direktur Kemitraan Swara Gembira, menekankan urgensi pelestariannya.

Selain menjaga warisan budaya, ini juga melibatkan pengrajin yang mencari nafkah dari proses pembuatan batik.

Upaya Swara Gembira telah menciptakan tren di media sosial, di mana masyarakat membagikan video mengenai penggunaan kain batik dalam gaya modern.

Dampaknya membuat orang semakin sadar dan tidak aneh melihat penggunaan batik dalam berbagai kegiatan sehari-hari.

Swara Gembira juga mendukung komunitas pecinta wastra Indonesia, seperti Remaja Nusantara, yang membantu anak muda memahami sejarah wastra.

Program bimbingan berkain mereka membantu meningkatkan rasa percaya diri generasi muda dalam memakai kain tradisional.

Namun, ada hambatan dalam pelestarian wastra. Beberapa generasi muda menganggap kain sebagai sesuatu yang kuno dan sakral.

Selain itu, motif dan desain kain batik saat ini dianggap kurang relevan oleh sebagian generasi muda, menyebabkan rasa bosan.

Pembatik muda seperti Nuri Ningsih Hidayati berusaha mengatasi tantangan ini dengan menciptakan inovasi dalam motif batik.

Dia mendirikan Marenggo Warna Alam dan menciptakan motif-motif baru, memadukan tradisi dengan tema kontemporer seperti Tanah Basah.

Baca juga: Misi FabBRICK untuk Mengubah Limbah Tekstil

Inisiatif dari generasi muda ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa batik, sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Indonesia, tetap hidup dan dicintai oleh generasi mendatang.

Melalui upaya pelestarian dan inovasi, mereka menjembatani kesenjangan antara tradisi dan kekinian, membawa warisan budaya bangsa ke tingkat yang lebih tinggi. (AN)

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.