Hari Pertama: Memasuki Area Kedamaian
Langit Ubud tampak cerah pada Kamis pagi, dengan sinar matahari yang menembus awan tipis dan menerangi jalanan berkelok menuju Abisena Ubud. Setelah dua jam berkendara melewati pemandangan hijau Bali, saya tiba di resort yang terinspirasi dari legenda Bima—ksatria pencari Tirta Kamandalu, atau yang diketahui sebagai ‘air suci kehidupan’. Begitu melangkah masuk, dunia luar pun seakan memudar. Suasana tenang menyambut dengan gemericik air mancur, suara dedaunan yang terkibas angin, dan udara segar yang jarang dirasakan di kota. Abisena Ubud adalah mahakarya yang menyatukan modernitas dengan tradisi Bali, layaknya kisah spiritual yang dihidupkan kembali.
Villa Valley Suite Pool, tipe kamar kami saat itu, adalah perpaduan sempurna antara warisan budaya dan desain kontemporer. Dinding putih bersih dipadu panel kayu jati berukir tradisional, sementara furnitur minimalis menciptakan kesan elegan. Kain tenun khas Gianyar berwarna merah menyala menghiasi tempat tidur, diterangi lampu kuning yang memberi kesan ‘tenang’ dan ‘hangat’. Di sudut lain, fasilitas modern seperti smart TV dan rain shower hadir tanpa mengganggu kesan autentik. Kamar mandi berdesain unik, dengan bathtub dan wastafel orange metalik yang mewah melengkapi interior kamar. Setiap detail—dari ukiran hingga tas anyam—bercerita tentang kearifan lokal.
Sore hari, Sun Downer Experience di tepi kolam infinity menjadi puncak kesempurnaan. Mixologist Abisena menyuguhkan koktail dan wine pilihan untuk menemani berubahnya warna langit, gradasi jingga beralih menjadi ungu, dan untuk sesaat, waktu bagai terdiam. Senja pun tiba.
Hari Kedua: Melukat
Pukul delapan pagi, kelas Hatha Yoga di paviliun terbuka membuka hari dengan sempurna. Instruktur memandu gerakan perlahan, selaras dengan kibasan angin lembut dan kicau burung. Dilanjutkan dengan sarapan di Runara Restaurant. Hari ini Crispy egg benedict dan almond latte jadi pilihat breakfast untuk menyiapkan energi, karena sesaat lagi ritual Melukat akan dimulai.
Diajarkan oleh staf Abisena, kami mulai menyusun canang dan sesajen dengan antusias. Ini akan menjadi pengalaman melukat ke dua sejak saya pindah ke tanah Bali. Setelah semua siap, kami pun berangkat, perlahan mengikuti pematang sawah basah, melewati rimbunnya pepohonan hijau khas Ubud. Di ujung jalan, terlihat mata air mengalir dari pipa bambu. “Mulai dari hati,” ujar pemangku sebelum mengguyurkan air suci ke kepala. Dingin, namun jiwa ini terasa ringan, seolah beban tahunan luruh bersama aliran air yang kembali membasahi tanah kami berpijak.
Hari Ketiga: Merawat Tubuh, Menyegarkan Pikiran
Tanpa alarm, tubuh terbangun oleh sinar matahari dan kicau burung. Kami menuju area spa, Dirasha Wellnes, yang memberikan pengalaman 30 menit lower back massage, dan 60 menit Airtara body scrub. Setelah itu kami mencoba Jacuzzi dan ruang sauna untuk lebih merelaksasi otot-otot tubuh, yang kali ini, cukup perlu ‘recovery’ setelah berkegiatan sepanjang minggu.
Akhirnya perjalanan bersama Abisena pun sampai pada penghujungnya. Sambil bersiap untuk kembali ke riuhnya kota, Abisena Ubud memberikan sebuah memori pengalaman Bali yang menghidupkan legenda, budaya, dan keseimbangan diri. Dari desain yang merayakan warisan lokal hingga pelayanan dari hati dari para Punggawa Abisena, setiap detik di sini mengajak Saya untuk meresapi esensi Bali yang sejati. Saat pintu kamar tertutup, yang tersisa hanya satu pertanyaan: Kapan kembali?
Rekomendasi Kuliner
-
Buttermilk Chicken Burger: Daging ayam gurih dengan remah renyah, disajikan dalam charcoal bun yang unik.
-
Crispy Egg Benedict: Pas untuk memberikan energi di pagi hari.
📍 Abisena Ubud Bali
Jl. Raya Keliki No.123, Keliki, Kec. Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali 80561
IG: @abisenaubudbali | 🌐 abisenaubud.com
Photographer: Livia Kurniadi
Instagram: @LiviaKrnd














