Destination Spotlight: Coral Eye, Bangka Island

Menyelam Lebih Dalam ke Timur Indonesia—Dari Riset, Menjadi Ruang Hening yang Bermakna
Point of view – Rusdi Sanad, fotografer

Sebagai fotografer, perjalanan selalu dimulai jauh sebelum kamera diangkat. Kali ini, perjalanan itu membawa saya ke Timur Indonesia—ke Bangka Island, Sulawesi Utara. Dari Manado, perjalanan darat sekitar dua jam menuju pelabuhan, lalu dilanjutkan dengan perahu selama kurang lebih 30 menit. Di titik itu, suara mesin perlahan menghilang, digantikan oleh angin laut dan ritme pulau yang lebih tenang.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Coral Eye, yang terasa bukan kemewahan, melainkan keheningan yang terkurasi. Sambutan hangat dari tim Coral Eye terasa tulus dan tidak dibuat-buat. Sebagai fotografer, saya langsung tahu: ini bukan tempat yang harus “dipaksakan cantik”. Ia membiarkan dirinya difoto apa adanya.

Coral Eye bukanlah resort yang lahir dari konsep pariwisata semata. Tempat ini berakar dari dunia sains—dibangun oleh para marine biologist sebagai pos penelitian dan konservasi terumbu karang di salah satu wilayah dengan biodiversitas laut terkaya di Indonesia. Seiring waktu, ruang ini berkembang menjadi destinasi eksklusif, tanpa kehilangan niat awalnya: merawat laut, bukan mengeksploitasinya.

Nilai itu terasa dalam setiap detail. Dari praktik diving yang bertanggung jawab, perjalanan laut yang tidak padat, hingga pendekatan edukatif terhadap tamu. Bangka Island sendiri menawarkan karakter bawah laut yang berbeda—lereng landai dengan kombinasi soft dan hard coral, kaya akan kehidupan makro seperti nudibranch dan frogfish. Berbeda dengan Bunaken yang terkenal dengan dinding karang dramatis, Bangka terasa lebih lembut, lebih intim.

Sebagai fotografer, saya tidak hanya memotret lanskap, tapi juga niat di balik tempat ini.

Ruang, Arsitektur, dan Ritme Pulau

Bangunan utama Coral Eye—yang juga berfungsi sebagai dive center dan welcome area—menjadi titik pertemuan yang menarik. Ada front office, perpustakaan kecil, butik, lounge, hingga meja panjang ikonik yang sering menjadi ruang kerja bersama. Arsitekturnya tidak mendominasi alam, justru mengikuti kontur dan ritme pulau.

Setiap sudut terasa fungsional tanpa kehilangan rasa tenang. Cahaya masuk alami, material terasa jujur, dan ruang-ruang kecil tercipta secara organik. Ini adalah jenis tempat yang membuat saya menunggu momen, bukan mencarinya.

Coral Eye menawarkan pengalaman menginap yang eksklusif, namun tidak berjarak. Vila-vilanya dirancang untuk privasi dan kenyamanan, sementara pengalaman bersantap—termasuk hidangan ala carte dengan sentuhan Italia—disajikan dengan perhatian pada detail dan kebutuhan tamu, tanpa berlebihan.

Yang menarik, tidak ada kesan tergesa. Di sini, waktu berjalan lebih lambat. Pagi terasa panjang, sore datang dengan cahaya yang lembut, dan malam kembali sunyi. Sebagai fotografer, ritme seperti ini memberi ruang untuk bekerja secara intuitif—membiarkan suasana berbicara sendiri lewat gambar.

Memotret dengan Hati

Melalui Destination Spotlight, saya memotret Coral Eye dengan pendekatan yang sangat personal. Saya tidak mengejar dramatisasi. Saya memilih membiarkan atmosfer muncul secara natural—cahaya pagi di dermaga, gerak tenang laut, ekspresi staf yang bekerja dengan penuh kesadaran.

Setiap frame adalah upaya menerjemahkan esensi tempat ini: sebuah sanctuary yang lahir dari riset, tumbuh dengan empati, dan dibuka untuk mereka yang ingin benar-benar hadir. Bukan sekadar datang, tapi mengalami.

Coral Eye bukan destinasi yang ingin kamu selesaikan dalam satu akhir pekan. Ia adalah tempat untuk berhenti, menyelam—secara harfiah dan batin—lalu pulang dengan perspektif yang sedikit berubah.

Photographer: Rusdi Sanad
Writer: Kiky Ramadhanissa
Alih bahasa: Cheryl Marella

Cheryl Marella

Editor in Chief Good Shot ID