/

Membaca Arah dan Dinamika Fashion Indonesia Bersama Reza Bustami

Image courtesy: Instagram @rezabustami

Di tengah transformasi industri fashion global dan lokal, peran seorang fashion editor menjadi semakin krusial dalam menjembatani antara karya kreatif desainer dan publik. Kali ini, Goodshot Media berkesempatan berbincang dengan Reza Bustami, fashion editor dari salah satu majalah fashion ternama di Indonesia. Melalui tiga pertanyaan inti, kami menggali pandangannya tentang tren fashion saat ini, arah perkembangan industri, dan cerita di balik profesinya.

Perspektif yang Tak Sekadar Visual

Image courtesy: Instagram @rezabustami

Ketika ditanya apa yang menjadi hal terbaik dari profesinya, Reza menekankan pentingnya peran seorang editor sebagai saksi pertama dari sebuah karya mode. “Keuntungan menjadi fashion editor tentu adalah menjadi orang yang pertama berkesempatan melihat presentasi suatu karya dari para fashion designer,” jelasnya. Menurut Reza, presentasi fashion bukan hanya soal visual, tapi pengalaman multisensorial. “Ketika kita membuat tulisan, tidak hanya sekadar melaporkan apa, di mana, siapa, dan bagaimana, tapi ada point of view yang valid dan pengalaman tersendiri dari si penulis,” tambahnya. Selain itu, profesi ini juga membuka peluang eksplorasi ke berbagai tempat yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. “Menjadi editor membuat kita berkesempatan untuk traveling ke tempat-tempat yang tak terpikirkan oleh kita ataupun orang lain, dan itu memperluas wawasan secara signifikan,” ujarnya.

 

Arah Baru Fashion

Image courtesy: Instagram @rezabustami

Memasuki kuartal terakhir 2025 dan menjelang awal 2026, Reza melihat arah tren fashion mulai mengalami pergeseran makna. “Quiet luxury masih bertahan, tapi lebih emosional,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa fashion saat ini bergerak ke arah yang lebih personal, penuh tekstur, dan mengutamakan narasi. Lebih dari sekadar estetika visual, pendekatan emosional ini mencerminkan keterhubungan antara pakaian dengan masa lalu, alam, dan ekspresi diri yang lebih lembut namun bermakna. “Sustainability juga tetap relevan,” kata Reza. Fokus beralih pada penggunaan material ramah lingkungan, konsep daur ulang, dan peningkatan daya tahan busana. Desain minimalis diprediksi akan semakin populer bukan hanya sebagai gaya, tapi sebagai filosofi hidup yang tercermin dalam busana.

 

Akar Lokal, Resonansi Global

Image courtesy: Instagram @rezabustami

Reza mengapresiasi perkembangan fashion lokal yang kini semakin variatif dan otentik. “Fashion di Indonesia sudah cukup seru karena pelakunya semakin banyak, dari desainer sampai label,” katanya. Yang menarik, banyak di antaranya kini mengambil inspirasi dari budaya lokal. Contoh yang disebutkan adalah kebaya jagan yang dikembangkan dengan pendekatan gaya yang lebih kontemporer, serta penggunaan wastra nusantara yang kini tak lagi terbatas pada acara formal seperti pernikahan. “Secara tampilan dan styling juga sudah mulai terasa lebih internasional,” tambahnya. Namun, Reza mengingatkan pentingnya menjaga keberlangsungan tren ini agar tidak sekadar menjadi fenomena sesaat. “Yang harus dipertahankan adalah bagaimana tren ini tidak hanya menjadi one hit wonder, tapi bisa terus berkembang dan memperkuat identitas desain Indonesia.”

 

Melalui perbincangan kami, terlihat jelas bagaimana peran seorang fashion editor tidak hanya sebagai pengamat tren, tetapi juga kurator cerita dan budaya. Reza Bustami mengajak kita melihat fashion bukan hanya sebagai produk estetika, melainkan sebagai refleksi dari nilai, sejarah, dan identitas. Di tengah gempuran tren global, penting bagi pelaku industri untuk tetap berpijak pada akar lokal. Seperti yang disampaikan Reza, fashion yang memiliki makna akan selalu relevan baik di panggung runway maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published.