/

5 Community-Based Tourism di Indonesia untuk Pemberdayaan Warga Lokal

Pariwisata terasa lebih berarti ketika masyarakat lokal ikut menjadi bagian dari pengalaman dan pengelolaannya. Konsep community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat memberi ruang bagi warga untuk mengembangkan homestay, kuliner, kerajinan, aktivitas budaya, hingga atraksi wisata yang berasal dari potensi daerah mereka.

Di Indonesia, konsep ini berkembang di berbagai desa wisata dengan karakter yang berbeda. Dari pegunungan Yogyakarta, kawasan pedesaan Malang, desa adat Bali, lanskap hijau Lombok, hingga perkampungan tradisional Flores, wisatawan dapat menikmati perjalanan sekaligus mengenal kehidupan masyarakat secara lebih dekat.

Berikut 5 community-based tourism di Indonesia yang menarik untuk Kamu kunjungi.

1. Desa Wisata Nglanggeran — Yogyakarta

Desa Wisata Nglanggeran di Kabupaten Gunungkidul menjadi salah satu contoh pariwisata berbasis masyarakat yang cukup kuat di Indonesia. Desa ini mendapatkan penghargaan ASEAN Community Based Tourism Awards pada 2017 dan mengembangkan pengalaman wisata yang melibatkan masyarakat serta potensi lokal. 

Daya tarik Nglanggeran tidak hanya berasal dari Gunung Api Purba. Kamu dapat mengikuti berbagai aktivitas yang dikelola masyarakat, mulai dari belajar budidaya kakao, mengolah produk cokelat, menanam padi, membuat batik topeng, hingga mengenal seni dan budaya lokal seperti karawitan. Tersedia pula homestay yang memungkinkan wisatawan tinggal lebih dekat dengan kehidupan warga. 

Konsep tersebut membuat perjalanan ke Nglanggeran terasa lebih interaktif. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga dapat belajar mengenai cara masyarakat mengembangkan potensi desa sebagai sumber ekonomi.

Highlight: Gunung Api Purba, Embung Nglanggeran, kakao lokal, batik topeng, karawitan, pertanian, dan homestay warga.

Tips berkunjung: pilih paket aktivitas atau homestay yang dikelola masyarakat agar pengeluaran wisata Kamu dapat ikut mendukung ekosistem ekonomi lokal.

2. Desa Wisata Pujon Kidul — Malang, Jawa Timur

Desa Wisata Pujon Kidul berada di kawasan dataran tinggi Kabupaten Malang dengan lanskap persawahan dan pegunungan yang menjadi bagian dari pengalaman wisatanya. Desa ini berkembang dengan mengandalkan potensi pertanian, peternakan, alam, serta aktivitas masyarakat. 

Pendekatan Pujon Kidul menarik karena kehidupan pedesaan menjadi bagian dari produk wisata. Kamu dapat mencoba aktivitas seperti memetik sayuran, memerah susu sapi, berkuda, mengikuti kegiatan budaya, hingga menikmati kopi dan kuliner lokal dengan pemandangan persawahan. Kajian akademik mengenai Pujon Kidul juga secara khusus membahas pengembangannya sebagai community-based tourism dan kaitannya dengan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

Salah satu pengalaman yang cukup populer adalah menikmati suasana persawahan dari kawasan Cafe Sawah. Konsep ini memperlihatkan bagaimana ruang dan aktivitas yang dekat dengan kehidupan warga dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang menarik.

Highlight: persawahan, peternakan, aktivitas pertanian, memerah susu sapi, Cafe Sawah, kuliner lokal, dan panorama pegunungan.

Tips berkunjung: datang pagi atau menjelang sore untuk mendapatkan suasana yang lebih nyaman dan menikmati panorama persawahan dengan cahaya yang lebih lembut.

3. Desa Wisata Penglipuran — Bali

Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli memperlihatkan bagaimana budaya, tata ruang tradisional, dan kehidupan masyarakat dapat menjadi fondasi pariwisata. Desa adat ini mempertahankan arsitektur khas, aturan adat, serta tradisi yang diwariskan lintas generasi. 

Penglipuran secara resmi menerapkan sistem pengelolaan berbasis community-based tourism. Masyarakat desa terlibat dalam kegiatan pariwisata melalui berbagai profesi, termasuk perajin, pedagang suvenir, pelaku kuliner, pengelola homestay, pemandu wisata, dan pelaku usaha lainnya.

Kamu dapat berjalan menyusuri kawasan desa, melihat arsitektur tradisional, menikmati kuliner lokal, mengunjungi hutan bambu, hingga mengikuti aktivitas budaya seperti belajar membuat penjor atau gebogan ketika tersedia. Penglipuran juga mendapatkan penghargaan Best Tourism Village dari UN Tourism pada 2023. 

Highlight: arsitektur Bali tradisional, hutan bambu, kuliner lokal, kerajinan, homestay, dan aktivitas budaya.

Tips berkunjung: hormati aturan adat ketika memasuki area permukiman dan pilih produk kuliner atau kerajinan dari pelaku usaha lokal.

4. Desa Wisata Bilebante — Lombok, Nusa Tenggara Barat

Desa Wisata Bilebante di Kabupaten Lombok Tengah mengembangkan konsep Green Tourism Village dengan menggabungkan lanskap pedesaan, pertanian, budaya Sasak, dan kreativitas masyarakat. Persawahan, perkebunan, serta sungai menjadi bagian dari karakter destinasi ini. 

Pengalaman yang ditawarkan cukup beragam. Kamu dapat menikmati jalur sepeda, mengunjungi Pasar Pancingan, mengikuti aktivitas berbasis pertanian, menikmati kuliner lokal, hingga melihat berbagai usaha masyarakat. Bilebante juga memiliki homestay, bumi perkemahan, kolam renang, serta sentra pelatihan UMKM pengolahan rumput laut. Pengembangan tersebut membuat Bilebante menarik bagi wisatawan yang ingin melihat bagaimana potensi alam dan aktivitas warga dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang tetap memiliki karakter lokal.

Highlight: persawahan, jalur sepeda, Pasar Pancingan, budaya Sasak, kuliner lokal, homestay, dan UMKM.

Tips berkunjung: gunakan pemandu atau paket aktivitas lokal jika ingin mengenal lebih banyak tentang pertanian, kuliner, dan kehidupan masyarakat Bilebante.

5. Desa Adat Wae Rebo — Flores, Nusa Tenggara Timur

Wae Rebo menawarkan pengalaman community-based tourism dengan karakter budaya yang sangat kuat. Desa adat di Kabupaten Manggarai, Flores, ini berada di kawasan pegunungan pada ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut dan dikenal melalui rumah adat berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang. 

Kehidupan masyarakat dan tradisi leluhur menjadi bagian utama dari pengalaman wisata. Perjalanan menuju Wae Rebo juga membutuhkan trekking dari kawasan Denge sehingga wisatawan benar-benar merasakan perubahan lanskap sebelum tiba di desa.

Pengalaman menginap di Mbaru Niang menjadi salah satu daya tarik utama. Kamu dapat mengenal kehidupan masyarakat, menikmati lanskap pegunungan, serta memahami tradisi yang masih dijaga hingga sekarang. Wae Rebo juga dikenal sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman digital detox karena jaringan internet dan akses listriknya terbatas. 

Highlight: Mbaru Niang, budaya Manggarai, trekking, homestay, kuliner lokal, dan panorama pegunungan.

Tips berkunjung: siapkan fisik untuk perjalanan trekking, bawa perlengkapan yang diperlukan, dan hormati aturan adat selama berada di kawasan desa.

FAQ

Apa itu community-based tourism?

Community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat merupakan pendekatan yang memberikan peran penting kepada masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pengembangan destinasi wisata. Bentuknya dapat berupa homestay, pemandu wisata, kuliner, kerajinan, aktivitas budaya, hingga pengelolaan lingkungan.

Apa contoh community-based tourism di Indonesia?

Beberapa contohnya adalah Desa Wisata Nglanggeran di Yogyakarta, Desa Wisata Pujon Kidul di Malang, Desa Wisata Penglipuran di Bali, Desa Wisata Bilebante di Lombok, dan Desa Adat Wae Rebo di Flores. Nglanggeran dan Penglipuran secara khusus tercatat memiliki pendekatan community-based tourism. 

Bagaimana community-based tourism membantu masyarakat lokal?

Masyarakat dapat terlibat sebagai pengelola homestay, pemandu, perajin, pelaku kuliner, pengelola aktivitas, hingga pengurus destinasi. Model ini membuka peluang agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi.

Apa community-based tourism yang cocok untuk wisata budaya?

Penglipuran dan Wae Rebo menjadi pilihan menarik bagi Kamu yang ingin melihat kehidupan masyarakat serta tradisi lokal. Penglipuran menonjolkan adat dan arsitektur Bali, sementara Wae Rebo menawarkan pengalaman budaya Manggarai dengan Mbaru Niang sebagai ikon utamanya. 

Apa community-based tourism yang cocok untuk wisata alam?

Nglanggeran, Pujon Kidul, dan Bilebante dapat menjadi pilihan. Ketiganya menggabungkan lanskap alam dengan aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti trekking, pertanian, peternakan, bersepeda, dan kuliner lokal.