///

MyoMES Indonesia Merevolusi Deteksi Kekuatan Otot

sumber: Dirjen Dikti

Berasal dari Universitas Diponegoro (Undip), sebuah alat revolusioner, MyoMES, siap untuk mengubah cara pengukuran kekuatan otot, sebuah lompatan yang jauh melampaui batas-batas laboratorium medis.

Awalnya dirancang untuk membedakan kesalahan amputasi otot, ternyata telah melampaui tujuan awalnya.

Dalam bentuk evolusinya, alat ini terbukti menjadi aset yang sangat berharga dalam mendiagnosis kondisi seperti stroke dan, yang menarik, stunting seiring berjalannya waktu.

Baca: Suntikan 7 Menit Merevolusi Pengobatan Kanker di Inggris

Terbebas dari ketergantungan pada peralatan medis impor, persetujuan Kementerian Kesehatan Indonesia untuk MyoMES menandai awal dimana inovasi dalam negeri memberdayakan narasi layanan kesehatan bangsa.

Rifky Ismail, yang memimpin Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) Undip, telah membina MyoMES sejak tahun 2015. Saat ini, MyoMES merupakan bukti visi dan dedikasi mereka yang tiada henti.

Kecemerlangan MyoMES terletak pada kesederhanaan dan kemanjurannya. Alat tersebut dapat mengukur kontraksi otot di berbagai bagian tubuh—baik tangan, kaki, atau leher.

Yang membedakannya adalah sifatnya yang non-invasif, memastikan pengguna tidak mengalami efek samping.

Hartanto, salah satu anggota tim Undip yang bangga, menjelaskan, “Semudah memasang konektor di tangan. Saat Anda mengepalkan telapak tangan, kekuatan otot Anda langsung terlihat dan terus terbaca selama lima detik.”

Kejelasan dan kemudahan penggunaan seperti itu merupakan terobosan baru dalam diagnostik otot.

Namun MyoMES tidak hanya berpuas diri. Para peneliti Undip yang selalu terdepan mempunyai rencana besar. Dengan Internet of Things (IoT) sebagai intinya, mereka sedang dalam proses membuat aplikasi real-time untuk MyoMES.

Tujuannya adalah menciptakan sebuah alat yang dapat mendeteksi penderita stunting dengan lancar, didukung oleh kecanggihan kecerdasan buatan.

Di negara yang sedang berupaya menurunkan angka stunting—dengan target penurunan angka stunting sebesar 14% pada tahun 2024—potensi dampak dari inovasi tersebut sangat besar.

“Mimpinya,” Hartanto membayangkan, “adalah mengembangkan kemampuan IoT MyoMES menjadi sistem kecerdasan buatan yang lengkap. Hal ini akan memberdayakan para profesional kesehatan untuk mengidentifikasi anak-anak yang mengalami stunting dengan mudah.”

Perjalanan MyoMES—dari pendeteksi amputasi otot hingga alat yang berpotensi mengubah bangsa—sangat menginspirasi dan patut dicontoh.

Baca juga: Perusahaan Bioteknologi Amerika Terima Donasi Tinja

Ketika Indonesia berada di titik puncak kemandirian medis dan diagnostik kesehatan yang canggih, peran inovasi seperti MyoMES tidak dapat disangkal.

Memang benar, masa depan teknologi kesehatan tampak lebih cerah di setiap genggaman tangan.

8 Comments

  1. You’re so awesome! I don’t think I have read through something like this before.
    So nice to discover someone with some genuine thoughts on this topic.
    Really.. many thanks for starting this up. This website is one thing that is needed on the
    web, someone with a bit of originality!

  2. Howdy! I could have sworn I’ve visited this web site before but after going through some of the posts I realized it’s new to me.
    Regardless, I’m definitely pleased I stumbled upon it and I’ll be book-marking
    it and checking back frequently!

  3. Amazing! This blog looks just like my old one! It’s on a totally different topic but it has pretty much the same page layout and design. Great choice of colors!

  4. Everything is very open with a very clear clarification of the challenges.
    It was really informative. Your site is very useful.
    Many thanks for sharing!

Leave a Reply

Your email address will not be published.