/

Kartini Mewangi di Negeri Orang

“Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya..” sepenggal lirik lagu ciptaan WR Supratman yang menggambarkan perjuangan seorang Kartini, yang sering kita nyanyikan sebagai salah satu lagu nasional. Sesuai lagu tersebut, nama Raden Adjeng Kartini,  ternyata benar-benar harum mewangi sampai ke negeri orang.

Sedikit mengulik kehidupan seorang Raden Adjeng Kartini yang terlahir di keluarga bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, istri pertama dari ayahanda Kartini, namun bukan istri utama. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari seluruh saudara sekandung, Kartini menjadi anak perempuan tertua. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS).  Namun, setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah untuk dipingit.

Kartini yang mahir berbahasa Belanda adalah seorang pembelajar. Di rumah ia kerap belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah di masa itu.

Cita-citanya dituangkan dalam surat-suratnya kepada kenalan dan para sahabat di Belanda, seperti Estelle Zeehandelaar, pasangan suami istri JH Abendanon dan Rosa Manuela Abendanon, Marie Ovink-Soer, Prof Dr GK Anton, HH von Kol, dan HG de Booij-Boissevain. Kemudian surat-surat Kartini diterbitkan di negeri Belanda pada 1911 oleh JH Abendanon dengan judul ‘Door Duisternis tot Licht.’ Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh sastrawan pujangga baru Armijn Pane pada 1922 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Sesuai Keppres No. 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964, Raden Adjeng Kartini resmi diberi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia. Keppres ini juga menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. Tidak hanya di dalam negeri sendiri, nama Kartini diabadikan pula di Belanda sebagai nama jalan.

R. A. Kartinistraat, Venlo

Jalan R.A Kartinistraat di Venlo (Foto: ranesi.nl/Tanjung)

Kota Venlo terletak di perbatasan antara Belanda dan Jerman di wilayah tenggara provinsi Limburg. Venlo terkenal dengan bangunan bersejarah dan museum.  Kota  ini mempunyai jalan yang di beri nama R.A Kartinistraat jalanan  berbentuk ‘O”, tepatnya di kawasan Hagerhof.

Kartini Boulevard, Utrecht

Kartini Boulevard di Utrecht (Foto: Google Maps)

Utrecht adalah kota terbesar ke-4 di Belanda dan menjadi ibu kota provinsi Utrecht di pusat negara. Jaraknya sekitar 43 kilometer atau 25 menit di selatan Amsterdam. Kota ini memiliki banyak gereja dan arsitektur bersejarah yang berasal dari abad pertengahan. Disana terdapat Kartini Boulevard dan merupakan salah satu jalan utama berbentuk huruf ‘U’.

Raden Adjeng Kartini Straat, Amsterdam

Kota Amsterdam, Jalan Raden Adjeng Kartini (Foto: Istimewa)

Ibukota Belanda, Amsterdam, awalnya adalah desa nelayan kecil yang ditemukan pada abad ke-13. Kemudian kota ini berkembang sangat pesat menjadi satu tempat paling populer di Eropa dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Belanda. Di kawasan Zuidoost atau lebih dikenal dengan sebutan Bijlmer, terdapat sebuah jalan yang memakai nama Raden Adjeng Kartini.

Kartinistraat, Harleem

Posisi Kartinistraat di Harleem berdekatan dengan Sutan Sjahrirstraat (Foto: Google Maps)

Kota selanjutnya di Belanda yang memakai nama Kartini sebagai jalan adalah kota Haarlem. Terdapat sebuah jalan di kota tersebut bertuliskan Kartinistraat. Uniknya, selain menggunakan nama Kartini, nama Sutan Sjahrir dan Muhammad Hatta juga digunakan untuk nama jalan yang berdekatan.

Wah, bisa jadi opsi menarik untuk menelusuri jalan-jalan ini ketika berwisata ke Belanda.

 

Risa Sastromidjojo

INFJ fairy who writes tales & creates her own reality

10 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.