/

Beyond Borders: Warisan Toko Buku Abadi dan Perjalanan Inspirasional Mohamed Aziz.

Sumber: infonews.id

Di jantung kota Rabat, terdapat surga sastra yang memuat kisah inspiratif Mohamed Aziz, seorang pria yang hidupnya terbentang seperti halaman-halaman buku yang berharga.

Sebagai anak yatim piatu, impian Aziz untuk mendapatkan pendidikan hancur karena mahalnya harga buku pelajaran.

Baca: Dari Berjualan Sapu Hingga Membangun Impian: Perjalanan Inspiratif Pak Ahmad

Namun, sesuai takdirnya, ia muncul dari bayang-bayang masa kecilnya yang miskin dengan tekad yang tak tergoyahkan untuk menulis ulang narasinya.

Didorong oleh keinginan untuk membalas masa lalunya, Aziz memulai misi untuk menjadikan pendidikan dapat diakses oleh semua orang.

Toko buku kuno yang ia dirikan pada tahun 1967 di dalam tembok sebuah bangunan yang lapuk.

Toko buku Aziz tidak hanya berdiri sebagai sebuah usaha bisnis tetapi juga sebagai bukti ketahanan, semangat, dan kekuatan pengetahuan yang abadi.

Perjalanan Mohamed Aziz adalah salah satu kemenangan atas kesulitan.

Sebagai seorang anak yatim piatu pada usia dini, ia menghadapi kenyataan pahit karena tidak mampu membeli buku pelajaran yang diperlukan untuk pendidikan formal.

Pahitnya pengalaman ini memicu tekad dalam dirinya untuk memastikan bahwa orang lain tidak akan mengalami nasib yang sama.

Di masa dewasanya, Aziz mewujudkan cita-citanya dengan membuka toko buku di Rabat.

Pendirian ini bukan sekedar tempat perdagangan; itu menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang penasaran, tempat perlindungan bagi mereka yang mencari hiburan dan pemberdayaan yang ditemukan di halaman-halaman buku.

Impian Aziz melampaui kesuksesan pribadi; hal ini mencakup tujuan mulia untuk membuat literatur dapat diakses oleh semua orang, tanpa memandang latar belakang atau status keuangan mereka.

Di dalam tembok toko bukunya yang lapuk, komitmen Aziz terhadap perjuangannya terlihat jelas.

Setiap buku di rak membawa beban impian masa kecilnya dan aspirasi orang-orang yang, seperti dia, mendambakan pengetahuan dalam menghadapi kesulitan.

Buku-buku yang ia jual mencakup berbagai bahasa dan mencakup beragam subjek, yang mencerminkan keyakinannya bahwa keragaman pengetahuan sangat penting untuk memahami dunia secara menyeluruh.

Rutinitas Aziz sehari-hari merupakan bukti semangatnya yang tiada henti.

Duduk di depan toko, dia dengan sabar menunggu pelanggan, secercah kegembiraan terlihat di matanya.

Namun, di sela-sela transaksi, Aziz tidak hanya menikmati kesuksesan komersial toko bukunya; dia menggali inti dari tujuannya—membaca.

Tanpa kenal lelah, ia membolak-balik halaman dalam bahasa Arab, Inggris, atau Prancis, membenamkan dirinya dalam lautan luas pengalaman dan gagasan manusia.

Saat ditanya mengenai dedikasinya selama puluhan tahun terhadap dunia perbukuan, jawaban Aziz sederhana namun mendalam.

Baca juga: Kemenangan Akademik Ahmad Munjizun yang Menginspirasi

“Saya akan tinggal di sini sampai semua orang bisa membaca. Saya telah membaca lebih dari 4.000 buku, jadi saya telah menjelajahi lebih dari 4.000 kehidupan. Setiap orang harus memiliki kesempatan itu.”

Kata-kata ini merangkum esensi misi Mohamed Aziz, sebuah misi yang melampaui batas fisik toko bukunya dan masuk ke dalam hati dan pikiran orang-orang yang percaya pada kekuatan transformatif sastra.

Kisah Mohamed Aziz bukan hanya kisah kemenangan pribadi namun juga mercusuar harapan dan inspirasi bagi siapa pun yang menghadapi kesulitan.

Melalui komitmennya yang tiada henti terhadap pendidikan dan sastra, Aziz telah mengubah hidupnya menjadi warisan yang terus menginspirasi generasi, membuktikan bahwa kecintaan terhadap buku dapat mengatasi masa-masa tergelap di masa lalu. (EA)

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.